16 April, 2011

Pulang ke Rumah Sunyi

Aku telah tiba di rumah sunyi menjelang senja, kubuka pintu, kulihat setiap dinding-dindingnya,kuamati sejumlah sketsa yang kutempel disana. semuanya kini berdebu setelah kutinggalkan rumah sunyi ini beberapa waktu yang lalu, sekitar tiga tahun lamanya. Aku tak menangis, seolah berusaha bertahan dan kuat menjalani segumpal kisah dalam perjalananku tiga tahun ini. Akupun tersenyum getir, sembari menyeka dedebuan pada sebuah sketsa usang, benar-benar telah usang...

kemudian aku beranjak menuju taman, bunga-bunga sudah tak ada lagi, pohon-pohon rindang tempatku kuberteduh sudah kering dan rapuh. Sebuah cawan di meja kecil di pojok taman telah dilapisi debu, aku meraihnya dan termangu disana. Kubersihkan ia sampai mengkilap. Di bangku panjang di samping meja, akupun duduk, membuat dua sketsa, menaburinya dengan penggalan kisah selama tiga tahun. Sketsa pertama, dengan gambar sepotong tangan bertepuk tanpa bertepuk, dipojok kanan atas purnama memancar cahaya dalam gelap yang tak pekat.

Sketsa kedua, sepasang tangan saling bertepuk, pelangi mengitarinya ditemani matahari dengan latar musim semi. Akupun beranjak meninggalkan taman menuju ke dalam rumah, memasang kembali dua sktetsa itu.

aku kini bersama sunyi semoga bahagia bersama sunyi...

3 comments:

  1. Bagus sekali puisinya... Seperti menemukan diri sendiri didalam dua sketsa itu. Ternyata tak selamanya sunyi menyimpan kelam. Semburat bayang sketsa ada pelangi dan musim semi yang tak memiliki akhir. Kau dekap dengan seluruh jiwamu. Menjadi hidupmu, seutuhnya. Seterusnya.

    Hidup yg sebenarnya telah kau temukan. Bukan milik siapapun, tapi milikmu :)

    ReplyDelete
  2. Jika berpulangnya aku ke rumah sunyi bukan mimpi, aku akan terus memandangi sketsa keduaku, akan kudekap sepanjang hidupkku, tapi jika berpulangnya aku ke rumah sunyi hanya sebuah mimpi karena resah yang tak kunjung sirna, tentu aku tak kan sunyi lagi... ada tempat berbagi yang nyata

    ReplyDelete
  3. Sip, Gan!

    Urip mung pisan rasah digawe angel. Nikmati dan disyukuri. Yg utama kan perjuangan melawan ketertindasan. Lawan!

    ReplyDelete