Kami tak lebih dari sekedar
Secuil nafas yang menanti ajal
Mempertahankannya dengan keringat
Yang kuusap dengan airmata
Kami masih harus merangkai hari
Bersama ayah, ibu dan kadang pula suami
Begitulah mimpi menemani pada detik-detik
Ketika kami mesti berjuang melawan kemiskinan
Kami yang terdampar disini
Masih ingin bertahan untuk hidup
Walau bahaya di kanan kiri kami
Di hadapan dan juga dibelakang kami
02 July, 2008
01 July, 2008
SALAM RINDU
Terik ini begitu menyengat, aku diburu resah tak sabar membayangkan pertemuan kita setelah puluhan purnama melintas hanya sempat kutitipkan salam untukmu. Sudah sampai dimana? Tanyamu dalam pesan singkat yang kau kirimkan. Aku telah menunggumu disini, katamu dam semakin menggetarkan hatiku. Begitu aku tiba di kota kecil ini, resahku semakin membuncah tak dapat kutahan kerinduan yang sangat mendalam.
Di sebuah Cafe sederhana, kita duduk bersila, saling berbagi cerita, berapa waktu telah kita lewati dengan sia-sia, hampa dan sepi. Mengapa kita mesti bertemu disini setelah kupalingkan langkah tak sanggup menunggu kepastian hati tempat aku bersandar dan berteduh dari segenap kepiluan masalalu yang tak juga pergi. Mengapa kita mesti mengukir janji bila kau telah dikejar waktu?
Waktu itu aku telah memilih untuk bungkam, dengan seribu kecemasan yang tak mampu kutanggung. Melihat engkau juga bisu. Hari ini kita tak perlu menyesali mengapa pertemuan kita dulu di taman dikolam ikan itu tidak membukakan hati kita untuk saling menyapa dan mengikat sebait janji ? sudahlah Nda, kita telah memiliki kehidupan masing-masing walaupun hati tak semudah itu untuk dilepaskan. Meski sedetik rasamu seabab rasa cintaku.
Blang Pidie, 20 Agustus 2006
Di sebuah Cafe sederhana, kita duduk bersila, saling berbagi cerita, berapa waktu telah kita lewati dengan sia-sia, hampa dan sepi. Mengapa kita mesti bertemu disini setelah kupalingkan langkah tak sanggup menunggu kepastian hati tempat aku bersandar dan berteduh dari segenap kepiluan masalalu yang tak juga pergi. Mengapa kita mesti mengukir janji bila kau telah dikejar waktu?
Waktu itu aku telah memilih untuk bungkam, dengan seribu kecemasan yang tak mampu kutanggung. Melihat engkau juga bisu. Hari ini kita tak perlu menyesali mengapa pertemuan kita dulu di taman dikolam ikan itu tidak membukakan hati kita untuk saling menyapa dan mengikat sebait janji ? sudahlah Nda, kita telah memiliki kehidupan masing-masing walaupun hati tak semudah itu untuk dilepaskan. Meski sedetik rasamu seabab rasa cintaku.
Blang Pidie, 20 Agustus 2006
ENGKAUPUN TERHIMPIT SUNYI
Aku mempersilahkan engkau duduk, diatas tikar kalbu, yang berhasil kurajut, ketika engkau memberiku benang-benang mimpi dan sisa serpihan nyata.
Beranda ini terasa sejuk, meski panas mulai meradang kampungku, hamparan padi yang masih menghijau menambah sejuk suasana. Aku senang engkau disini, saling berbagi. Entah siapa yang memulai percakapan, tiba pada kata-katamu yang menghancurkanku. “aku butuh teman, aku terasa asing disini, tidak ada siapa-siapa”. Aku hampir tidak percaya bahwa kau berada pada kesunyian, sedangkan kukenal engkau berjiwa utuh. Hatimu dapat menciptakan seribu warna pelangi yang sering kau sematkan juga pada hatiku. Nda, pastilah aku dapat menyelami kesunyian yang menghimpitmu kini. Menanigslah kalau itu perlu untuk menyingkirkan sedikit dari kehampaanmu. Seperti aku juga menangis mendengar keadaanmu hari ini. Nda, jadikan aku sahabatmu, yang selalu ada untukmu, walaupun ada batas, ada waktu, bahkan ada cinta sekalipun.
Angin kembali berdesir, menyisir batang-batang padi. Kita terdiam, saling berpikir untuk keluar dari himpitan sunyi, keluar untuk mencari hikmah dari setiap langkah menerawang melintasi harapan yang masih terpasung.
4 Mei 2008
Beranda ini terasa sejuk, meski panas mulai meradang kampungku, hamparan padi yang masih menghijau menambah sejuk suasana. Aku senang engkau disini, saling berbagi. Entah siapa yang memulai percakapan, tiba pada kata-katamu yang menghancurkanku. “aku butuh teman, aku terasa asing disini, tidak ada siapa-siapa”. Aku hampir tidak percaya bahwa kau berada pada kesunyian, sedangkan kukenal engkau berjiwa utuh. Hatimu dapat menciptakan seribu warna pelangi yang sering kau sematkan juga pada hatiku. Nda, pastilah aku dapat menyelami kesunyian yang menghimpitmu kini. Menanigslah kalau itu perlu untuk menyingkirkan sedikit dari kehampaanmu. Seperti aku juga menangis mendengar keadaanmu hari ini. Nda, jadikan aku sahabatmu, yang selalu ada untukmu, walaupun ada batas, ada waktu, bahkan ada cinta sekalipun.
Angin kembali berdesir, menyisir batang-batang padi. Kita terdiam, saling berpikir untuk keluar dari himpitan sunyi, keluar untuk mencari hikmah dari setiap langkah menerawang melintasi harapan yang masih terpasung.
4 Mei 2008
30 June, 2008
KUABADIKAN CINTA
Sepanjang musim nyanyian kepedihan mengallun dari relung kalbu bulbul. Musimpun berganti, pun juga sorak suka cita tersungging pada kepak sayapnya, dari dahan ke dahan melenggak kegirangan. Tak jarang juga, pada lembah yang di ia kembarai iapun mengalunkan seribu tahun kesunyian. Kidung duka cita selalu menjadi karib dalam mengarungi bencana hati pada musim yang tak pernah ramah menghampirinya.
Abadikan cinta, seperti seekor Rangkok yang mengalungkan kesetiaan dilehernya hingga kematian menjadi jalan terakhir bagi perpisahan. Saatnya berhenti di perbatasan antara segumpal mimpi dengan sekeping kenyataan yang pahit. Berhentilah pada cinta bulbul, belajar pada pengalaman dimana cintamu hanyalah sebait kesemuan. Mengikuti jejak merpati atau rangkok jauh lebih terhormat daripada menangis dengan seribu kepiluan yang meradang hati..
Abadikan cinta dilubuk sanubari, dalam hening dan kesunyian yang nyata, bukan pada mimpi yang semu. Saatnya meraih cinta dan menikmatinya dengan sempurna.
27 Juni 2008
Abadikan cinta, seperti seekor Rangkok yang mengalungkan kesetiaan dilehernya hingga kematian menjadi jalan terakhir bagi perpisahan. Saatnya berhenti di perbatasan antara segumpal mimpi dengan sekeping kenyataan yang pahit. Berhentilah pada cinta bulbul, belajar pada pengalaman dimana cintamu hanyalah sebait kesemuan. Mengikuti jejak merpati atau rangkok jauh lebih terhormat daripada menangis dengan seribu kepiluan yang meradang hati..
Abadikan cinta dilubuk sanubari, dalam hening dan kesunyian yang nyata, bukan pada mimpi yang semu. Saatnya meraih cinta dan menikmatinya dengan sempurna.
27 Juni 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)